Friday, 8 June 2012

Bertutur Setelah Tengku Hasan Tiada…

SOSOK kontroversial deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ternyata tidak hanya jadi pembicaraan semasa ia masih hidup, tetapi juga setelah ia tiada. Bahkan, melihat kharismatiknya yang jadi buah bibir itu, ia layak diberikan gelar pahlawan nasional.

Sejak Aceh Merdeka (AM) yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Aceh Merdeka dideklarasikan, 4 Desember 1976, nama Teungku Muhammad Hasan Di Tiro memang dikenal dunia luas. Nama “Hasan Tiro” kian jadi ‘buah bibir’ media sejak Aceh diterapkan sebagai Daerah Operasi Militer (1989-1998).

Bagi sebagian orang, nama ini seperti genderuwo—orang Aceh menyebutnya ma’op—tetapi bagi sebagian lainnya, terutama di kalangan GAM, nama Tgk. Hasan hidup sebagai spirit perjuangan sekaligus panutan. Oleh karena itu, kadang nama ini ‘dijual’ untuk kepentingan sesuatu, termasuk menjaga perdamaian.

‘Penjualan’ nama Hasan Tiro untuk suatu kepentingan tersebut diungkap oleh salah seorang penulis dalam buku “Hasan Tiro, The Unfinished Story of Aceh”. Buku setebal 308 halaman ini memuat 44 artikel sederhana yang menceritakan tentang Hasan Tiro dan perjuangannya. Ke-44 artikel tersebut ditulis oleh 44 orang, ditambah satu obituari oleh Nezar Patria dan satu artikel wawancara ekslusif Harian Serambi Indonesia bersama Prof. James P Siegel, tentang karakter Hasan Tiro.

Kendati buku terbitan Bandar Publishing ini muncul setelah Hasan Tiro meninggal dunia, beberapa artikel yang dihimpun di dalamnya merupakan catatan lama para penulis pengisi buku itu. Ada tulisan yang membicarakan Hasan masih di Amerika atau Swedia, ada pula saat kepulangannya pertama ke Aceh, Oktober 2008.

Selain itu, terdapat pula beberapa artikel yang ditulis sejumlah orang setelah deklarator GAM itu ‘pergi’ ke dunia lain. Melalui catatan kaki di beberapa tulisan dalam buku bersampul wajah Tgk. Hasan itu, dapat diketahui pula bahwa sebagian artikel sudah pernah dipublikasikan di media cetak dan online. Dengan demikian, buku ini tak lebih dari kumpulan catatan sejumlah orang dalam memandang Hasan Tiro.

Banyaknya jumlah penulis di sini menjadikan pula beragam jenis tulisan yang muncul. Ada yang menulis dalam bentuk esai/opini populer, ada dalam bentuk reportase, ada pula dalam bentuk potongan biografi sekilas, dan ada bentuk catatan pertemuan si penulis dengan Tgk. Hasan.

Cara pandang para penulis yang bervariasi melahirkan tulisan beragam tema pula. Ada yang menulis kepribadian tunggal Hasan, ada yang menulis pendapat orang lain tentang Hasan dan keluarga, ada yang menulis semacam surat kerisauan yang ditujukan entah kepada siapa, ada pula yang menulis keresahan akan perdamaian Aceh setelah Hasan tiada.

Tak diragukan lagi, kumpulan artikel dalam buku ini seakan hendak membeberkan tentang Hasan Tiro yang selama hidup hingga menjelang ajalnya selalu kontroversi. Oleh karenanya, para penulis buku ini mewakili berbagai kalangan, ada dari akademisi, jurnalis, analis politik, aktivis NGO, mantan kombatan, dan bloger.

Penulis dalam buku ini ternyata tidak semuanya orang Aceh, ada penulis dari pulau Jawa bahkan dari luar Indonesia, seperti Lilianne Fan (Bangkok, Thailand) sehingga buku ini menjadi komplit membicarakan kepribadian Hasan dari berbagai kalangan.

Bongkar Rahasia
Disadari atau tidak, kebanyakan tulisan dalam buku ini mencoba membongkar ‘rahasia Hasan’ yang selama ini jarang diketahui publik. Sebut saja di antaranya pada obituari Nezar. Secara serampangan, Nezar membeberkan kehidupan Hasan sejak masih mahasiswa di Universitas Islam Indonesia (IUU) hingga ia ke Amerika dan kembali lagi ke Aceh.

Dari sini dapat diketahui bahwa sebelumnya Hasan merupakan seorang nasionalis Indonesia. Paparan hampir sama juga terlihat pada beberapa tulisan lainnya. Akan tetapi, ada juga tulisan yang mencoba membongkar tabir kematian Hasan dengan segala polemiknya yang menerima sertifikat WNI, sehari sebelum ia menghembuskan napas terakhir.

Hal itu secara detail dikupas oleh Raihal Fajri (hlm. 95-200). Fajri mencoba membandingkan mudahnya sertifikat WNI yang diperoleh Hasan tinimbang Susi Susanti dan suaminya, Alan Budikusuma. Susanti, atlet bulu tangkis nasional yang telah mengharumkan nama Indonesia juga pernah mengajukan permohonan sertifikat WNI pada tahun 1988, tetapi baru keluar pada 1996. Semacam ada ‘permainan’ dalam pe-WNI-an Hasan, meskipun di satu sisi pemerintah mengaku tidak ada keistimewaan pada seorang Hasan Tiro.

Perlahan tapi nyata, singkat tapi jelas, itulah yang tersirat pada setiap artikel dalam buku ini. Kendati demikian, tentu saja tidak sepenuhnya sempurna. Banyaknya jumlah penulis yang melahirkan beragam anggle tetang Hasan sangat menuntut kelihaian penyunting. Misalnya, terjadi ketidakkonsistenan dalam sapaan nama mantan deklarator GAM tersebut. Beberapa tulisan menyapa dengan “Hasan”, tetapi ada juga dengan sebutan “Tiro”.

Tidak konsistennya penyunting juga terlihat dalam hal ejaan, terutama pemiringan sejumlah kata (termasuk frasa) atau kalimat. Hal paling jelas ditemukan dalam catatan tentang para penulis, ada yang dimiringkan; ada yang dibiarkan tegak; ada pula pemiringan yang keliru, misalnya untuk kata “penulis buku” dimiringkan, tetapi keterangan tentang judul buku yang seharusnya miring malah tidak dimiringkan.

Dari sisi tataletak, juga masih perlu diperbincangkan. Untuk kutipan syair atau puisi yang sudah ditulis per bait dengan ketentuan jumlah baris—misal, satu bait ada empat baris—seharusnya layouter tidak memenggal baris dalam bait tersebut apalagi hanya satu baris yang disisihkan.

Hal ini seperti pada halaman 25 dan 26. Satu baris pada bait kedua puisi yang dikutip oleh salah seorang penulis ‘tercampak’ ke halaman 26 sehingga terkesan sisih dan berdiri sendiri, sedangkan tiga baris lainnya masih di halaman 25. Kemiripan yang sama terjadi pada halaman 180, yang ungkapan salam dalam sepucuk surat Hasan ‘terasing’ pada halaman 181.

Menyunting buku yang isinya merupakan bunga rampai memang membutuhkan kejelian mendalam. Untuk itu, kehati-hatian patut jadi landasan. Namun demikian, buku ini tetap menarik dari segi isi dan tema yang diusung. Tak berlebihan jika disebutkan bahwa buku ini telah menjadi fragmen biografi perjuangan Hasan Tiro sehingga penting dibaca, terutama bagi mereka yang mau tahu ideologi GAM.

Sederhananya, para penulis di si ini berkiblat langsung pada buku fenomenal Hasan Tiro, The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan Di Tiro,  yang merupakan buku fenomenalnya deklarator GAM itu.
Herman RN, peminat sastra lokal



http://atjehpost.com





Monday, 4 June 2012

Mengenang Dua Tahun Meninggalnya Hasan Tiro

MENGENANG Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Sosok cerdas, berani, dan pantang menyerah
Sebagian besar orang Aceh tentu masih ingat, pada peristiwa langka Kamis 3 Juni 2010 lalu. Saat itu ribuan masyarakat Aceh berkabung, berkumpul, lalu mengiringi jenazah dari Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) menuju tempat pemakaman di Desa Meureu, Aceh Besar. Jenazah almarhum (alm) DR. Teungku Hasan di Tiro.

Iring-iringan dan raut berkabung ribuan orang hari itu, cukup memberi penjelasan, sosok yang akan dimakamkan adalah tokoh kharismatik, yang dihormati.
Seingat saya, di Aceh, peristiwa berkabung seperti  pada 3 Juni 2010 itu adalah satu-satunya selama 23 tahun terakhir. Pada 1987 silam, orang Aceh juga kehilangan tokoh besarnya, (alm) Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Tak hanya sama-sama sebagai tokoh kharismatik Aceh, Daud Beureueh  dan Hasan Tiro juga memiliki kesamaan lain. Sama-sama pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, lalu sama memimpin perjuangan melepaskan Aceh dari Indonesia. Lahir di bulan yang sama, meninggal di bulan dan tempat yang sama pula.
Daud Beureueh lahir di Pidie pada 17 September 1899 dan meninggal 10 Juni 1987.
Alm Hasan Tiro. Bagi saya, kharisma yang dimiliki beliau tidak semata karena jabatan Wali Nanggroe, atau karena darah biru pejuang Aceh yang mengalir dalam tubuhnya, lebih dari itu. Dan saya juga tidak akan menyebutnya sebagai sosok yang sempurna. Namun harus diakui, ia memiliki semuanya, kecerdasan, keberanian, dan pantang menyerah.
Gelar doctoral (DR) yang disematkan pada nama depannya tentu saja menjadi indikasi, ia memiliki tingkat akademisi yang tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan orang-orang seangkatannya. Sejumlah buku dan artikel juga dengan tegas memberikan klaim, Tgk Hasan memang sosok yang cerdas.
T. Nasruddin Syah dalam bukunya “Aceh Negeri Bayangan” menyebut Alm Hasan Tiro sebagai intelektual muda Aceh yang revolusioner, ketika pada 1970-an mulai memperjuangkan Aceh merdeka.
Van Dijk, sejarawan asal Rotterdam, Belanda, menyebut Hasan Tiro disebut sebagai seorang yang memiliki tingkat inteligensi tinggi, berpendidikan baik, yang diberkahi dengan kombinasi yang jarang terdapat pada orang kebanyakan, yakni pesona dan keteguhan hati.
Azhari, kawan sepermainan Alm Hasan Tiro pada masa kecil di Desa Tanjong Bungong, Tiro, mengaku tak habis pikir, karibnya itu mendapat bonus melompat kelas saat menempuh pendidikan di Madrasah Diniyah Islamiyah Blang Paseh, Kota Sigli. Dari kelas empat ke kelas enam. Kesempatan langka yang dimiliki oleh murid-murid sekolah saat itu, bahkan di zaman sekarang ini.
Banyak hal menarik yang diungkap Azhari, mengenai masa kecil Alm Hasan Tiro, saat saya mewawancarainya akhir November 2009 lalu, di Desa Tanjong Bungong. Hari itu, untuk pertama kali sejak sejak 30 tahun terakhir Alm Hasan Tiro pulang ke kampung halamannya. Azhari menyebut Hasan Tiro dengan sebutan Tengku Hasan.
Di masa kecil, Tengku Hasan suka bermain bola, bahkan dipercayakan menyandang ban kapten. Azhari selalu menjadi rekan satu timnya.
“Bola dari boh giri (jeruk bali),” kata Azhari.
Tengku Hasan pemain bola yang handal, sering menciptakan gol, dan sulit menerima kekalahan. Azhari kadang kewalahan memenuhi keinginan Tengku Hasan. Jika timnya kalah, selesai pertandingan, Tengku Hasan langsung merencanakan pertandingan untuk keesokan hari.
“Singeh tapeutaloe awaknyan!”
“Besok kita kalahkan mereka!”
Sikap kepemimpinan juga telah ditunjukkan Tengku Hasan sejak kecil. Selesai bermain bola, ia memobilisasi beberapa pemuda gampoeng, mengumpulkan kerikil dari sungai, lalu menaburinya di jalan-jalan desa yang berlubang. Hasilnya, tak ada lagi lubang jalan yang dapat mencelakai pengguna jalan di desa itu.
Di malam hari, Tengku Hasan mendampingi ibunya seumebeut (pengajian) di balee semeubeut yang ada di rumahnya. Pulang sekolah, ia dan Azhari mengajari anak-anak di desa belajar membaca dan berhitung. Tempat belajar itulah yang menurut Azhari menjadi cikal bakal Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) Tanjong Bungong saat ini.
Tengku Hasan berpisah dengan Azhari ketika ia melanjutkan pendidikan ke sekolah normal, Bireuen. Tahun 1945, ketika remaja, kemampuan kepemimpinannya dibuktikan dengan menjadi Ketua Muda Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Pidie, PRI adalah organisasi kepemudaan yang gencar memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada masa itu.
Kesempatan yang diperoleh Hasan Tiro untuk melanjutkan pendidikan ilmu hukum di Universitas Columbia, Amerika Serikat dan diperbantukan sebagai staf penerangan kedutaan besar Indonesia di PBB tentu saja tak terlepas dari kecerdasan yang dimilikinya.
Lalu lihat sederet pengalaman Hasan Tiro lainnya. Mendirikan Institut Aceh di Amerika Serikat, menjabat Dirut Doral International Ltd di New York, punya andil di Eropa, Arab, dan Afrika dalam bisnis pelayaran dan penerbangan.  Diangkat oleh Raja Feisal dari Arab Saudi sebagai penasehat agung uktamar Islam se-dunia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Mutabakh, Lembaga nonstruktural Departemen Dalam Negeri Libya (Tempo: Juni 2000).
Sebuah kisah hidup yang langka, bocah dari desa pedalaman yang dahulu bermain bola boh girie, kemudian dipercayakan menjabat posisi penting di negara super power Amerika Serikat, Eropa, Arab dan Afrika. Tentu saja, hal itu juga tidak tertutup kemungkinan bagi bocah-bocah Aceh lainnya.
Sebagai orang yang memiliki gelar doctor, Tgk Hasan tak semata-mata hanya menyandang gelar tersebut. Ia melaksanakan tradisi-tradisi inteleketual sebagaimana lazimnya yang dilakukan oleh kaum intelektual lain di seluruh dunia, menulis; buku dan artikel.
The Unfinished Diary, Demokrasi Untuk Indonesia (1958), The Prince of Freedom, adalah judul-judul buku yang ditulis Hasan Tiro semasa hidup.
***
DUTCH Commander: ”Which one is Tjut Njak Dien?” (No one volunteers to show. Everyone stands up in silent disbelief of what is unfolding before their eyes – but no one shows any sign of panick. Everyone stands on his her ground.)
Dutch Commander: ”Will someone show me which one is Tjut Njak Dien!”
(More silince)
Dutch Commander: ”Bring Waki Him here!”
All camp members (almost in unison): ”Oh, you, Waki Him! We spit upon you Waki Him!”
(Waki Him is pushed forward to the front. He is obviously very reluctant to show his traitorous face to his former friends. Waki Him lamely points his fingers at Tjut Njak Dien, and he slowly walks to wards her, and when he stands precisely in front of her, he says):
WAKI HIM: ”Forgive me, Your Highness, but I did this for your sake, so that your suffer no more. Your illnesses can be cured. You will not have to suffer hunger anymore!”
Tjut Njak Dien: ”I do not ask for your pity, Waki Him! Do you think we are domestic animals whose primary requipment is only full belly? No Waki Him, we are Free Achehnese, free human beings whose primary requipment is not full belly, but full honor and dignity. We die for honor and dignity, and not for food in the belly!”
Dialog tersebut adalah salah satu bagian cerita dari The Drama of Achehnese History, sebuah buku drama. Ini adalah satu-satunya buku naskah drama tentang sejarah Aceh yang saya ketahui. Karya Hasan Tiro, bukan oleh seniman atau sejarawan Aceh yang lain yang namanya terkenal itu. Ditulis tahun 1978, saat ia bergeriliya di Gunung Petisah, Pidie.
Saya belum pernah melihat buku itu. Sebagian dialog dari cerita tersebut saya peroleh dari postingan salah seorang member di sebuah milis komunitas orang Aceh.
Arif Zulkifli, dalam laporannya di Majalah Tempo edisi Mei tahun 2000 yang berjudul “Dua Jam Bersama Hasan Tiro” memberikan beberapa gambaran tentang buku itu.
Bukunya bersampul kuning, seukuran diktat kuliah, 56 halaman.  Materi cerita tentang sejarah Aceh, dipadu dengan musik klasik. Adegan dibuka dan ditutup dengan komposisi musik,  Purcell, Johann Sebastian Bach, Beethoven, dan beberapa komposer Barat lainnya. Beethoven, atau Ludwig van Beethoven adalah komponis terbesar di dunia asal Jerman yang hidup pada tahun 1770-1827.
Sampai sekarang, karya seniman besar ini masih menjadi rujukan para pelaku dan penikmat seni di seluruh dunia.
Halaman pengantar buku itu diisi Husaini Hasan, tokoh yang kemudian menempuh jalur perjuangan sendiri dengan mendirikan Majelis Pemerintahan (MP) GAM. Pengantar buku drama itu berisi suka duka saat Hasan Tiro menulis buku tersebut.
Saya kutip laporan yang ditulis Arif Zulkifli
"Tengku (Hasan Tiro) menulis dari pukul 7 pagi hingga 6 petang. Kami tak punya lampu jika malam. Itu semua dilakukannya sewaktu kami semua berhari-hari menunggu suplai makanan dari kampung."
Bagi saya, sejumlah buku-buku yang ditulis Tgk Hasan memberi bukti, ia tak sekedar menyandang gelar kosong, seperti yang dilakukan sebagian intelektual Aceh saat ini. Hasan Tiro benar-benar mengisi gelarnya itu dengan karya-karya intelektual.
Tulisan ini tentu saja bukan sekedar untuk memuja-muji Hasan Tiro. Tapi untuk mengingatkan orang Aceh, khususnya pengikut dan pengagumnya. Demi Aceh, Hasan Tiro telah berhasil memainkan perannya hingga ke tingkat internasional. Semua itu dengan kecerdasan, keberanian dan sikap pantang menyerah yang dimiliki.
Beliau telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk Aceh. Mengajarkan tentang banyak hal. Tentang bagaimana memperjuangkan martabat Aceh, bagaimana cara bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan apa yang diyakini, mengajarkan tentang bagaimana seharusnya menjadi intelektual, bahkan mengajarkan kita bagaimana semestinya menjadi seniman.
Apakah semua pelajaran itu hanya untuk dikenang? Sebaiknya mari kita “mengamalkannya”.